Pernah melihat prosesi adat di Bali yang dipenuhi iring-iringan, gamelan, dan ornamen warna-warni, namun dilakukan dalam suasana yang tetap khidmat?
Banyak orang terkejut saat pertama kali menyaksikan upacara Ngaben, karena meski berkaitan dengan kematian, prosesi ini justru terasa penuh makna dan kebersamaan. Lalu, apa sebenarnya makna di balik upacara sakral ini?
Yuk, pelajari lebih jauh tentang tradisi Ngaben, jenis-jenis, hingga tahapan prosesinya di artikel ini!
Apa Itu Upacara Ngaben?
Bagi masyarakat Hindu Bali, kematian bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan spiritual menuju kehidupan selanjutnya. Atas dasar itu, masyarakat Hindu Bali melaksanakan upacara Ngaben.
Upacara Ngaben berasal dari daerah Bali. Ngaben adalah tradisi yang dipercaya sebagai cara untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal dan mengantarkannya kembali ke alam asalnya.
Secara filosofis, Ngaben bertujuan untuk melepaskan ikatan roh dengan dunia fana serta mengembalikan unsur-unsur pembentuk tubuh manusia ke alam semesta, yang dikenal sebagai Panca Maha Bhuta, yaitu Akasa (ruang), Bayu (angin/udara), Teja (api/cahaya), Apah (air/cairan), dan Pertiwi (tanah/padat).
Adapun tujuan proses pembakaran jenazah pada tradisi Ngaben adalah untuk melepaskan unsur jasmani, sementara doa-doa yang dipanjatkan bertujuan membimbing roh agar dapat melanjutkan perjalanannya dengan tenang.
Jenis-Jenis Upacara Ngaben
Dalam praktiknya, proses Ngaben dibagi ke dalam beberapa jenis yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi jenazah, usia almarhum, serta situasi tertentu yang menyertainya. Adapun beberapa jenis Upacara Ngaben adalah sebagai berikut:
1. Ngaben Sawa Wedana
Ngaben Sawa Wedana merupakan jenis Ngaben yang paling umum dan sering dilakukan. Upacara ini dilaksanakan ketika jenazah masih dalam kondisi utuh (sawa) dan belum dikuburkan.
Biasanya, jenazah akan disemayamkan sementara dengan berbagai upaya pengawetan tradisional hingga hari baik untuk pelaksanaan Ngaben tiba.
Jenis Ngaben ini membutuhkan persiapan yang cukup kompleks, mulai dari pembuatan wadah (bade atau lembu), sarana upakara, hingga prosesi pelebon atau pembakaran jenazah sebagai puncak upacara.
2. Ngaben Asti Wedana
Berbeda dengan Sawa Wedana, Ngaben Asti Wedana dilakukan ketika jenazah telah lebih dahulu dikuburkan.
Upacara ini dilaksanakan dengan cara menggali kembali makam untuk mengambil tulang-belulang (asti) yang tersisa, kemudian dikremasi dalam prosesi Ngaben.
Jenis ini umumnya dilakukan karena keterbatasan biaya atau kondisi tertentu, sehingga keluarga memilih untuk menguburkan jenazah terlebih dahulu sebelum melaksanakan Ngaben secara lengkap di kemudian hari.
3. Ngaben Swasta
Ngaben Swasta merupakan upacara Ngaben tanpa kehadiran jenazah fisik. Kondisi ini biasanya terjadi apabila jenazah tidak ditemukan atau tidak dapat dikremasi, seperti dalam kasus kecelakaan laut, bencana alam, atau peristiwa tertentu lainnya.
Sebagai pengganti jenazah, keluarga akan menggunakan simbol pengganti, seperti foto almarhum, lukisan, atau replika jenazah dari kayu cendana.
4. Ngaben Ngelungah
Ngaben Ngelungah merupakan jenis Ngaben yang diperuntukkan bagi anak-anak yang belum mengalami pergantian gigi susu. Umumnya, jenis Ngaben ini dilakukan untuk anak berusia sekitar 5–6 tahun.
5. Ngaben Warak Kruron
Ngaben Warak Kruron adalah jenis Ngaben yang diperuntukkan bagi bayi, biasanya berusia 0–12 bulan. Karena bayi dianggap masih suci dan belum memiliki ikatan duniawi yang kuat, pelaksanaan Ngaben ini umumnya dilakukan dengan prosesi yang lebih ringkas dan sederhana.
Prosesi Upacara Ngaben
Upacara Ngaben bukanlah ritual yang dilakukan secara singkat. Prosesi ini membutuhkan persiapan panjang dan keterlibatan banyak pihak. Berikut adalah tata cara dan proses Ngaben:
1. Ngulapin (Memanggil Roh Kembali)
Prosesi Ngaben diawali dengan Ngulapin, yaitu ritual untuk memanggil roh (Atma) orang yang telah meninggal agar kembali dan menyatu dengan jasadnya.
Upacara ini dapat dilakukan di berbagai tempat, seperti rumah duka, laut, atau lokasi tertentu sesuai dengan keyakinan dan kondisi keluarga.
2. Nyiramin/Ngemandusin (Penyucian Jenazah)
Tahap selanjutnya adalah proses memandikan dan membersihkan jenazah. Dalam tahap ini, berbagai simbol digunakan, seperti bunga dan perlengkapan upacara, yang melambangkan harapan agar roh dapat terlahir kembali dalam keadaan sempurna dan suci.
3. Ngajum Kajang (Simbol Pelepasan)
Pada prosesi Ngajum Kajang, selembar kain atau kertas khusus bertuliskan aksara suci akan digunakan sebagai simbol spiritual. Keluarga akan menyentuh atau menekan kajang tersebut sebagai tanda keikhlasan dan kesiapan untuk melepas kepergian almarhum.
4. Ngaskara (Penyucian Roh)
Ngaskara merupakan ritual penyucian roh secara spiritual. Tahapan ini bertujuan membersihkan Atma dari ikatan duniawi agar dapat kembali ke hadapan Sang Pencipta dan melanjutkan perjalanannya dengan damai.
5. Mameras (Penuntun oleh Keturunan)
Prosesi Mameras hanya dilakukan apabila almarhum telah memiliki cucu. Dalam kepercayaan setempat, kehadiran cucu melambangkan keberhasilan hidup, sekaligus menjadi simbol penuntun agar roh almarhum menuju jalan yang benar.
6. Papegatan (Mengikhlaskan Kepergian)
Tahap Papegatan berasal dari kata “pegat” yang berarti putus. Pada prosesi ini, keluarga secara simbolis memutus ikatan batin dengan almarhum sebagai tanda keikhlasan, agar roh tidak terhalang untuk menuju alam selanjutnya.
7. Pakiriman Ngutang (Menuju Tempat Pembakaran)
Jenazah kemudian diarak menuju tempat pembakaran dalam prosesi Pakiriman Ngutang. Iring-iringan ini biasanya berlangsung meriah dengan alunan gamelan Bali. Di beberapa titik, keranda akan diputar sebagai simbol perpisahan dengan dunia.
8. Ngeseng (Pembakaran Jenazah)
Ngeseng adalah puncak Upacara Ngaben, yaitu proses pembakaran jenazah. Ritual ini dipimpin oleh pendeta atau pemuka agama. Abu dan sisa tulang yang dihasilkan kemudian dikumpulkan sebagai bagian dari prosesi selanjutnya.
9. Nganyud (Menghanyutkan Abu)
Setelah pembakaran selesai, abu jenazah kemudian dihanyutkan ke laut atau sungai dalam prosesi Nganyud. Tahapan ini melambangkan pengembalian unsur jasmani ke alam semesta serta pelepasan segala ketidaksucian duniawi.
10. Mangelud/Mangoras (Penyucian Lingkungan)
Sebagai penutup, akan dilakukan prosesi Mangelud atau Mangoras, biasanya beberapa hari setelah Ngaben. Ritual ini bertujuan untuk membersihkan rumah dan lingkungan keluarga dari energi duka, sekaligus menandai dimulainya kembali kehidupan secara normal.
Tujuan Upacara Ngaben
Berikut adalah beberapa tujuan dilaksanakannya upacara Ngaben menurut tradisi Hindu Bali:
- Menyucikan roh (Atma) orang yang telah meninggal agar terbebas dari ikatan duniawi.
- Mengantarkan roh kembali ke asalnya.
- Mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke alam semesta melalui prosesi pembakaran.
- Membantu perjalanan roh menuju kehidupan selanjutnya.
- Sebagai bentuk bakti dan penghormatan terakhir keluarga kepada almarhum.
- Melepaskan ikatan emosional keluarga.
- Menjaga keseimbangan spiritual antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana).
- Melestarikan adat dan tradisi Bali sebagai warisan budaya yang sarat nilai filosofis dan spiritual.
Demikian pembahasan seputar tradisi upacara Ngaben, khusus untuk Anda yang sedang berusaha mempelajari berbagai budaya Bali.
Selain mengenal tradisi adat Bali yang begitu kaya, tak ada salahnya meluangkan waktu untuk mengeksplor keindahan alam Bali yang tak kalah memukau, lho. Pulau Dewata tidak hanya menawarkan pengalaman budaya, tetapi juga petualangan seru di alam terbuka yang bisa membuat liburan semakin berkesan.
Salah satu cara paling seru untuk menjelajahi alam Bali adalah dengan mengendarai ATV Quad Bike dari Gosek Adventure. Gosek Adventure menawarkan berbagai jenis ATV Ride, mulai dari Single Ride bagi Anda yang ingin berkendara sendiri, hingga Tandem Ride yang cocok dinikmati bersama teman atau pasangan.
Dengan rute menantang melewati sawah, sungai, hutan, jalur lumpur, hingga lintasan gua khas game Temple Run yang ikonik, pengalaman yang satu ini wajib masuk itinerary liburan Anda dan keluarga saat ke Bali.
Yuk, booking ATV Quad Bike Ride bersama Gosek Adventure sekarang dan rasakan sensasi petualangan seru di alam Bali!